Minggu, 29 Januari 2012

Aneka Manisan Buah dan Sayuran Desa Dramaga



     Sejak tahun 1970, aneka  jenis buah dan sayuran seperti pala, nanas, mangga, kemang, ceremai, ubi, pare dan wortel telah dikembangkan menjadi berbagai olahan manisan oleh penduduk Desa Dramaga, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor.
    Menurut salah satu pelaku usaha olahan manisan buah dan sayuran Desa Dramaga, Memed (75),  pada awalnya, usaha manisan buah dan sayuran di Desa Dramaga digeluti oleh sekitar 23 KK. Manisan yang dihasilkannyapun hanya satu jenis yaitu manisan pala, namun karena jenis manisan ini merupakan produk rintisan awal, maka manisan pala menjadi maskot sekaligus menjadi salah satu jenis makanan oleh-oleh khas Bogor.
     Dalam perkembangannya, berkat kreasi dari pelaku usaha olahan manisan Desa Dramaga, aneka jenis buah dan sayuran pun mampu diolah menjadi aneka manisan dengan corak bentuk dan warna yang bermacam-macam.
     Selain itu, berkembangnya olahan manisan telah mendorog peningkatan pelaku usaha olahan manisan, hingga saat ini jumlah pelaku usaha olahan  manisan di desa tersebut  menjadi 40 KK dengan melibatkan tenaga kerja rata-rata sepuluh orang per KK. “Alhamdulillah, usaha ini bisa ikut andil mengurangi jumlah pengangguran,” ungkapnya. 
     Lebih lanjut Memed mengungkapkan, pembuatan manisan buah dan sayuran tidak bisa dianggap gampang, sebab proses pembuatan manisan  memerlukan ketekunan dan keahlian agar mutu dari manisan bisa dipertanggungjawabkan secara citarasa maupun standar nilai kesehatannya.
    Membuat manisan dengan cita rasa yang enak dan memenuhi standar yang baik tidak hanya cukup dengan menciptakan rasa manis dan asam pada buah dan sayuran, tetapi juga memerlukan pengetahuan tentang  unsur-unsur lainnya seperti  zat warna yang dipakai, air yang digunakan saat penyucian buah dan sayuran serta keahlian memadukan berbagai bahan agar citarasa manisan disenangi  konsumen.
     Dengan memperhatikan kualitas, dalam perkembangannya manisan buah dan sayuran warga Desa Dramaga banyak diminati konsumen dari berbagai daerah, diantaranya dari kawasan Jabodetabek, bahkan ada yang berasal dari  kota-kota di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali dan Sulawesi.

Perlu Komitmen Pemerintah
     Selanjutnya Memed mengatakan, Potensi besar yang dimiliki oleh perajin olahan manisan Desa Dramaga, dalam pengembangan usahanya tidak sesuai dengan harapan, sebab masih banyak permintaan dari pemesanan yang tidak bisa tercukupi.
     Masih banyak masalah yang dihadapi untuk meningkatkan nilai produksi, diantaranya adalah masalah permodalan serta peralatan pendukung seperti oven (alat pemanas) ketika menghadapi musim penghujan.
    Walaupun olahan manisan Buah dan sayuran Desa Damaga cukup terkenal, namun perkembangan usahanya belum bisa mengangkat perekomian para pelaku kepada tingkat pendapatan yang lebih baik. “Selama ini hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja,” terang Memed.
     Besarnya potensi pasar menurut Memed, bisa dibuktikan ketika pada tahun 1990-an olahan manisan buah dan sayuran desa Dramaga setelah melalui tes laboratoriun mampu menembus pasar pusat perbelanjaan (supermarket) di Jakarta, namun karena keterbatasan modal, sementara sistem pembayaran yang diterapkan oleh pusat perbelanjaan tersebut satu bulan sekali, maka kerjasama tersebutpun tidak bisa dilanjutkan. “Kami perlu modal 30 kali lipat kalau ingin terus melanjutkan kerjasama dengan pusat perbelanjaan tersebut,” jelas Memed.
   Ia menambahkan. “Sebenarnya kami memerlukan komitmen pemerintah Kabupaten Bogor yang lebih nyata, saat ini, para perajin sudah banyak mengikuti pelatihan ataupun seminar yang diadakan oleh pemerintah, namun komitmen nyata berupa penguatan permodalan tidak pernah kami rasakan,” pungkas Memed. (Gesit)











1 komentar: